
Ditulis oleh: Ditulis pada: Oktober 31, 2024
Dalam pengambilan data praktikum, seorang praktikan harus dapat mengolah data dengan baik. Selayaknya seseorang yang akan memasak tumis kangkung, yang mana kangkung adalah data mentahnya dan akan diolah menjadi sebuah masakan istimewa khas sunda yaitu tumis kangkung.
Sama halnya pengolahan data, setelah praktikan mendapatkan angka hasil pengukuran. Maka praktikan harus sadar bahwa data yang dimaksud apakah hasilnya akan dijadikan tunggal atau berulang.
Pada postingan ini kami akan memberikan penjelasan singkat mengenai bagaimana cara mengelola data praktikum tunggal.
Data tunggal adalah nilai yang diperoleh dari satu kali hasil pengukuran. Berbeda dengan data berulang yang dilakukan pengukuran secara berulang-ulang kali.
Dalam pengukuran tunggal, yang pertama kali dilakukan oleh seorang praktikan adalah mengukur satu kali pengukuran, misalnya mengukur panjang meja dengan menggunakan penggaris.
Panjang meja diperoleh hasil 30,2 cm. Maka, nilai tersebut adalah data tunggal.
Menuliskan Hasil Pengukuran
Cara menuliskan hasil pengukuran baik itu data tunggal maupun data berulang yang mana dilakukan pengukuran secara berulang-ulang kali, maka dituliskan sebagai berikut.


Sedangkan untuk nilai ketidakpastiannya atau disebut dengan delta X, kamu bisa mencari nilai sekala terkecil alat yang sedang digunakan., misalnya penggaris memiliki sekala terkecil 0,1 cm. Nilai tersebut silakan bagi dengan nilai 2.
Berikut ini adalah persamaan untuk mencari nilai ketidakpastian pada data tunggal.
Kenapa mesti dicari nilai delta x atau ketidak pastian, karena setiap pengukuran pasti ada error. entah itu dari cara membaca hasil pengukuran atau kesalahan dari alat ukur yang digunakan. Inilah pentinya nilai ketidak-pastian.
Persamaan di atas untuk mencari nilai ketidakpastian data tunggal. Maka tidak bisa digunakan untuk olah data berulang.
Untuk alat ukur yang memiliki skala nonius seperti jangka sorong dan mikrometer sekrup, maka nilai ketidakpastiannya adalah skala terkecil noniusnya.